Minggu, 04 Desember 2016

Resensi Buku: Hujan Karangan Tere Liye


"Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya."





Hujan..
Buku ini adalah buku ke-4 karangan Tere Liye yang pernah aku baca. Sejujurnya aku bukan pecinta novel-novel karangan dalam negeri seperti yang sudah pernah aku singgung pada postingan sebelumnya. Tapi novel karangan Tere Liye memang layak untuk dibaca bukan saja karena ide ceritanya yang unik tapi juga pesan moral yang ditanamkan di dalamnya sungguh indah.

Hujan..
Menceritakan kehidupan berpuluh-puluh tahun dari waktu sekarang. Mengisahkan dua orang remaja bernama Lail dan Esok yang terpaksa untuk berfikir dan bertindak layaknya orang dewasa sebelum waktunya. Dipertemukan oleh bencana yang merenggut orang yang paling mereka sayangi, mereka tumbuh menjadi teman yang saling melindungi dan saling menyayangi satu sama lain.

Hujan..
Segalanya berawal darinya dan berakhir pula karenanya. Kenangan Lail bersama Esok di tengah hujan begitu kental dalam ingatan mereka. Lail boleh saja kehilangan kedua orang tuanya pada saat hujan turun, tapi ia tidak bisa membenci hujan karena hujan adalah saksi pertemuannya dengan Esok, anak laki-laki yang telah menyelamatkan hidupnya dan membantunya untuk bertahan hidup.

Hujan..
Banyak orang yang membenci datangnya hujan karena aktivitasnya di luar rumah bisa terhambat. Namun berbeda bagi Lail dan Esok. Mereka senang berlari dan bersepeda di antara rintik hujan yang membasahi tubuh mereka. Mereka senang berteduh bersama di antara derasnya air hujan yang tumpah ke bumi.

Hujan..
Bagi tiap orang dihukum bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi berbeda bagi Lail, ia rela dimarahi dan dihukum oleh petugas panti karena pulang dengan keadaan basah kuyup di sekujur tubuhnya. Ia malah senang karena alasan dia basah karena pulang ke panti dengan naik sepeda bersama Esok pada saat hujan turun.

Hujan..
Lail tak pernah bisa membenci hujan. Kehadirannya selalu mengingatkan ia kepada Esok, anak laki-laki jenius yang bisa menciptakan banyak benda spesial. Hujan juga menjadi saksi bisu perjalanan mereka mengelilingi kota tempat kelahiran mereka.

Kisah cinta antara perawat dengan seorang ilmuwan jenius. Pasangan yang sama-sama hebat. Pasangan yang tidak akan dapat dilupakan oleh dunia. Mereka berdua menjadi pahlawan bagi umat manusia di Bumi. Lail yang berhasil menyelamatkan ribuan penduduk karena semangatnya. Esok yang berhasil menciptakan berbagai penemuan hebat bagi kelangsungan hidup umat manusia.


Aku menyukai novel ini karena plot ceritanya yang dirangkai dengan cukup baik. Walaupun bercerita maju mundur antara masa kini dan cerita masa lalu, tapi secara keseluruhan aku tak dibuat bingung olehnya. Aku menyukai cerita semangat anak remaja yang tidak pantang menyerah setelah bencana besar menerpa mereka. Alih-alih sedih berkepanjangan akan kehilangan keluarga, mereka malah bangkit menolong orang yang kesusahan dan membuat keluarga yang telah meninggalkan mereka bisa bangga pada apa yang telah mereka lakukan di dunia.

Ini adalah kisah orang-orang hebat. Orang-orang yang bahagia di atas ke kebahagiaan orang lain. Sedih di atas kesedihan orang lain. Penyemangat di antara orang-orang yang kehilangan semangat hidup.

Secara keseluruhan cerita, menurutku Maryam adalah sosok remaja yang lebih tegar dibandingkan Lail. Mungkin berkat sosok Maryam lah, Lail bisa menjadi orang yang hebat. Buku ini tidak akan lengkap jika tidak ada karakter Maryam. Maryam yang memang yatim piatu sebelum bencana, membantu Lail untuk bersahabat dengan keadaan. Ia menjadi penyemangat Lail ketika Esok tak ada. Ia juga yang mengajak Lail untuk ikut menjadi Relawan dan membuat mereka menyadari bahwa mereka ingin menjadi perawat. Semangatnya begitu tinggi sebagai seorang Relawan dan itu menjadi contoh baik bagi Lail.

Terlepas dari kisah Lail dan Esok, Bang Tere juga memberi banyak pesan moral tentang reka kehidupan di masa depan. Bagaimana keserakahan manusia justru menjadi awal kepunahan manusia. Manusia yang terlalu mencintai teknologi dan kehidupan instan, lupa bahwa segalanya bisa saja hilang dan berbalik menyerang manusia. Sungguh pemikiran yang sangat hebat dari Bang Tere.


Beberapa kutipan/quote yang sangat indah dari buku ini yaitu:

"Bukan melupakan yang jadi masalahnya, tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah melupakan. ~Elijah."

"Hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah-marah, tapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukan diri sendiri. ~Ibu Esok."

"Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian. ~Unknown."

"Tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian. ~Maryam."

"Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya. ~Maryam."


Untuk keseluruhan cerita mulai dari plot hingga pesan moralnya, menurutku buku hujan layak mendapat 4 bintang dari 5 bintang. Aku belum bisa memberikan 5 bintang karena ada beberapa hal yang menurutku masih kurang dalam buku ini. Tapi jika kau bertanya apakah buku ini layak untuk dibaca, aku bisa bilang bahwa buku Hujan karangan Tere Liye Recommended!!!

Sabtu, 03 Desember 2016

Resensi Buku: Matahari karangan Tere Liye




Haloo guys..
Udah lama banget aku gak nulis resensi di blog ini. Udah lupa juga cara nulis resensi. Maklum akhir-akhir ini aku disibukkan dengan status mahasiswa akhir. Hehehe.. Maaf banget untuk beberapa pengunjung blog yang sempat memberi komentar di postingan sebelum-sebelumnya yang baru sempat aku baca setelah sekian lama kalian mampir.. xixixi
Kali ini aku ingin bercerita mengenai salah satu buku yang aku baru baca di tengah kesibukanku di antara menyiapkan skripshit (baca: skripsi). Buku ini berjudul Matahari karangan Tere Liye. Sebenarnya ini adalah karya trilogi best seller dari Tere Liye dan Matahari adalah buku ketiga setelah Bumi dan Bulan. Aku sudah membaca 2 buku sebelumnya tapi tidak sempat meresensi buku itu karena kendala mood yang berubah-ubah.. hahaha *abaikan
Jadi disinilah aku yang akan mulai berkomentar mengenai buku Matahari.

Buku Matahari menceritakan kelanjutan petualangan tiga sekawan yaitu Raib, Seli dan Ali. Mungkin yang sudah membaca 2 buku sebelumnya sudah tahu bahwa ketiga remaja ini memiliki keistimewaan dalam diri mereka. Tidak hanya karena berasal dari 3 klan atau dunia yang berbeda, mereka juga memiliki kekuatan dan kepintaran melebihi remaja lainnya.

Sebut saja Raib yang merupakan keturunan murni dari klan Bulan dan mewarisi kekuatan petarung terbaik klan Bulan seperti bisa menghilang, mengeluarkan pukulan yang luar biasa hebat, serta menyerap cahaya, dan kekuatan lainnya. Sedangkan Seli yang merupakan anak keturunan klan Matahari juga memiliki kekuatan yang tak kalah hebat seperti mengeluarkan petir, memindahkan benda-benda dari yang kecil hingga yang besar sekalipun, dan lainnya. Terakhir, Ali yang berasal dari klan Bumi memiliki kecerdasan luar biasa dan rasa ingin tahu yang besar sehingga ia kadang dijuluki sebagai ilmuwan gila karena suka bereksperimen dan menciptakan hal-hal luar biasa. Belakangan baru diketahui bahwa ia memiliki kekuatan untuk berubah menjadi beruang besar pada saat sangat mendesak dan ia sedang marah besar.

Ketiga sekawan ini tinggal di bumi tanpa menyadari kekuatan yang mereka miliki hingga pada suatu kejadian membawa mereka pada kenyataan bahwa mereka spesial. Mereka berbeda dari remaja lainnya. Membawa mereka bertualang ke klan Bulan dan Matahari di usia yang sangat muda. Mereka belajar mengendalikan kekuatan mereka dan melatihnya hingga menjadi sangat hebat setara petarung klan bulan dan klan matahari. (Untuk cerita lengkapnya kalian bisa baca di buku Bumi dan Bulan).

Di buku Matahari ini Raib, Seli dan Ali kembali bertualang. Kali ini mereka pergi ke Klan Bintang yang ternyata terdapat di perut bumi puluhan ribu kilometer di bawah permukaan bumi. Dengan kapsul serbaguna ciptaan Ali yang bernama ILY, mereka pergi ke klan Bintang untuk mencari tahu banyak hal yang belum mereka ketahui sebelumnya baik tentang orang tua kandung Raib, kisah si Tanpa Mahkota, kehidupan klan Bintang, dan lainnya yang belum sepenuhnya mereka ketahui dan mereka pahami.

Selama perjalanan ini, mereka semakin mengasah kekuatan yang mereka miliki. Seli dan Raib memperoleh banyak kemajuan dalam menggunakan kekuatan mereka. Sedangkan Ali memperoleh banyak pengetahuan baik itu tentang teknologi maupun sejarah 4 klan yang ada. Perjalanan yang awalnya hanya karena rasa ingin tahu, berubah menjadi perjalanan yang membawa misi penting bagi keberlangsungan 4 klan ke depannya.

Positive:
Menurutku perjalanan mereka ke klan bintang semakin mendebarkan. Banyak hal yang membuatku belajar mengenai perut bumi yang dijelaskan dengan sangat apik oleh karakter Ali dalam buku ini.
Aku yang dasarnya suka buku fiktif semacam Harry Potter cukup menyukai genre buku seperti ini. Aku suka cara Raib, Seli dan Ali berteman baik. Mereka sama-sama kuat dan saling membantu satu sama lain jika sedang kesusahan.
Banyak sekali nilai moral yang berhasil ditanamkan Bang Tere di buku ini. Persahabatan, keluarga, pengetahuan dan lainnya. Cara Bang Tere bercerita sejauh ini tidak ada masalah. Masih asyik seperti 2 buku sebelumnya. Untuk ukuran buku dalam negeri, aku cukup terkesan dengan ide dan pemilihan kata yang digunakan dalam buku ini.
Buku Matahari juga memberi tahu kita bahwa tidak selamanya hidup dalam teknologi yang canggih menjadi hal baik untuk kita. Bahkan jika kita terlalu tergantung dengan teknologi, manusia akan semakin lemah fisiknya dan semakin tergantung dengan teknologi. Dengan berkembangnya teknologi, manusia akan menjadi semakin serakah dan semakin ingin berkuasa.
Aku suka cara Bang Tere menceritakan teknologi canggih yang sangat membantu kehidupan manusia. Sampai kadang-kadang aku sangat ingin memiliki teknologi fiktif ciptaan bang Tere itu. Namun, di sisi lain Bang Tere juga mengingatkan apa asyiknya tergantung pada teknologi. Malah membuat kita tidak bisa menikmati dunia ini dengan bebas.
Dalam karakter Ali, Bang Tere juga menjelaskan bahwa semua teknologi dan kekuatan pada dasarnya bukanlah magic tapi ada sangkut pautnya dengan teknologi dan pengetahuan tentang alam ini. Penjelasannya lumayan masuk akal namun beberapa tidak terpecahkan dengan gamblang. Masih mengambang tanpa teori yang jelas. Namun secara keseluruhan banyak hal positif yang ditanamkan dalam buku ini.

Negative:
Tidak jauh berbeda dengan buku Bumi dan Bulan, Buku Matahari juga mengingatkanku akan novel Harry Potter digabungkan dengan komik doraemon ditambah sedikit kesan Novel Hunger Games. Jujur saja aku adalah pecinta buku-buku itu jauh sebelum aku membaca trilogi buku ini. Tapi semakin kesini, ceritanya makin kental dengan gabungan buku-buku itu. Bubuk api di perapian adalah salah satu hal yang mengingatkan aku pada Harry Potter. Headset penerjemah dan pita pengubah suara mengingatkanku pada Doraemon. Petualangan mereka mengingatkanku sedikit pada Hunger Games.
Sejauh ini, aku tidak terlalu menikmati perjalanan mereka ke klan bintang. Mereka seperti tidak memiliki tujuan yang jelas pergi ke klan tersebut. Terkesan buru-buru dan dipaksakan. Orang tua angkat Raib dan Seli yang terlalu mudah memberi mereka ijin untuk bertualang ke tempat yang bahkan orang klan Bulan dan Matahari belum pernah kunjungi. Hal itu menurutku terlalu beresiko walaupun mereka memiliki kekuatan sekalipun. Entah mengapa banyak hal-hal yang menurutku terlalu dipaksakan dalam buku ketiga ini.

Over all, aku tetap menyukai buku Matahari walaupun favoritku sejauh ini masih buku Bulan. Menurutku petualangan mereka paling asyik pada saat tournament di klan Matahari waktu itu. Tapi its okay.. masih ada buku terakhir yang aku tunggu yaitu buku Bintang. Semoga saja ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan.

Ps: Aku masih menantikan pasangan kekasih yang tercipta di trilogi ini. Hahaha
Sejauh ini aku masih ship Raib dan Ali. Kurasa mereka cocok satu sama lain. Di buku Matahari juga sedikit diceritakan tentang kedekatan mereka. Seli pun mulai menyadari hal itu. Hahaha
Tapi aku rasa Bang Tere tidak akan mengabulkan permintaanku. Aku rasa mereka hanya akan berakhir cukup dengan menjadi sahabat. Mungkin saja.

Kamis, 10 November 2016

All I Ask


Let this be our lesson in love
Let this be the way we remember us
I don't wanna be cruel or vicious
And I ain't asking for forgiveness
All I ask is

If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
'Cause what if I never love again?
(All I Ask ~ Adele)



Perpisahan yang sebenarnya telah terjadi. Hal yang paling aku takutkan akhirnya terjadi. Namun, entah mengapa jika ini memang akhir, aku ingin kita mengucapkan salam perpisahan terakhir dengan baik.

Malam itu, aku memang berpisah dengan semuanya. Tapi perpisahan yang paling nyata adalah perpisahan antara kita. Perpisahan antara rasa yang hampir melekat menjadi satu.

Mereka semua tahu kisah kita. Mencoba untuk menyatukan kita. Tapi kita sendiri pun tahu bahwa tak akan mungkin ada lagi yang bisa menyatukan hati yang diselimuti ego dan rasa saling tidak percaya ini. Bahkan bujukan dari mereka sekalipun tak akan bisa membenahi tembok yang telah runtuh ini.

Mungkin di mata mereka aku yang lebih menyayangimu. Aku yang lebih ingin bersamamu. Aku tak keberatan dengan hal itu. Aku tak tahu bagaimana hatimu, aku hanya tahu bagaimana hatiku selalu tertuju padamu. Bahkan sampai detik ini sekalipun.

Sampai sekarang pun aku tak tahu jika memang benar kenyataannya bahwa kau mempermainkanku selama ini. Hanya mengumbar kata-kata manis di depanku. Menganggapku hanya "angin yang singgah" di hatimu. Orang yang jika tak kau butuhkan lagi tinggal kau tiup dan hilangkan dari hatimu.

Aku tak mengharapkan permintaan maafmu. Aku tak berharap kau membuat alasan-alasan tak berguna seperti rasa minder, keadaan yang berbeda, atau egomu yang terlalu besar. Tapi aku hanya ingin meminta satu hal saja padamu. Biarkan kita berpisah dengan cara yang benar. Tanpa ada luka ataupun rasa sakit di antara kita. Berikan aku kenangan menyenangkan sedikit saja karena sangat menyebalkan hanya bisa mengingatmu dengan kenangan menyakitkan ini.

Kita mengenal dengan cara yang baik dan aku tak berharap kita berakhir dengan cara tidak baik seperti ini. Bagaimana jika kita tidak akan bertemu lagi? Apakah seumur hidup aku harus mengingatmu sebagai pria pengecut tak berperasaan? ~

ps: jika sebulan, dua bulan, bahkan setahun lagi kubaca tulisan ini, satu hal yang aku harapkan adalah aku bisa tersenyum dan sepenuhnya terbebas dari rasa sakit hati ini..

Masih Adakah Aku Dalam Kisah Masa Depanmu?




Awalnya kau berikan aku kode senyuman, tatapan, dan perhatian.
Kau buat aku merasakan hadirnya dirimu dalam hidupku.
Kau membuatku melihatmu dengan pandangan berbeda dari pria lainnya.
Yang awalnya biasa menjadi luar biasa.
Yang awalnya bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang istimewa.

Lama-lama aku tersenyum akan kehadiranmu.
Aku gelisah menanti kedatanganmu.
Wajahku merona merah ketika kutatap wajahmu.
Jantungku berdebar kencang walau hanya mendengar namamu disebut.

Sekarang kenangan tinggal kenangan.
Kau jauhi diriku karena egomu.
Kau menyerah hanya karena keadaan.
Kau biarkan aku merasakan sakit.
Kau pergi meninggalkan janji yang belum pasti bisa kau tepati.
Teganya kau biarkan aku berenang dalam genangan harapan yang tiada mengering.

Semua harapan sirna.
Semua cerita menjadi dongeng semata.
Semua kisah menjadi fiktif belaka.
Semua rasa menjadi berbeda.
Satu yang masih tersisa, perih hati yang telah terluka.

Apakah ini sudah jalan takdir kita untuk saling bertemu?
Mengenal satu sama lain, memberi rasa nyaman hingga tak mampu lagi pergi ke lain hati.
Tapi apakah takdir itu harus sekejam ini?
Membiarkan rasa ini tumbuh tanpa boleh berkembang, tanpa boleh merobohkan dinding tebal di antara kita, namun aku tetap harus merasakan kepedihan yang menusukku semakin dalam.
Masihkah ada aku dalam kisah masa depanmu?
Bisakah aku memiliki harapan, menunggu janjimu yang semakin lama semakin terasa pudar, masihkah rasa ini tetap bertahan walaupun sekian lama telah berlalu, menanti masa depanmu yang belum pasti ada aku di dalamnya.

Andai aku bisa tahu tentang masa depanmu, aku hanya ingin tahu hal itu. Setidaknya aku bisa tahu apakah aku harus tetap menunggu atau merelakan dirimu dengan ikhlas.

Selasa, 08 November 2016

Tolong Bangunkan Aku, Tuhan!



Mungkin aku masih setengah terjaga.
Mencoba untuk sepenuhnya terbangun dari mimpi tak berujung ini.
Namun aku sadar bayang-bayang nama, wajah, dan senyumnya masih menari dalam mimpiku.

Tuhan selalu mengujiku dengan banyak pilihan.
Tapi seringkali aku memilih jalan yang salah.
Memilih takdir yang salah.
Takdir yang membawaku pada kesakitan.

Mereka bilang aku terlalu dramatic.
Mereka berfikir aku terlalu terbawa perasaan.
Mereka selalu mengingatkanku jangan terlalu banyak memberi pupuk dalam rasa yang aku tanam.
Mereka menyadarkanku bahwa segala hal yang berlebihan tidak akan bagus.
Aku tahu teorinya, otakku tahu cara kerjanya, tapi hatiku terlalu bodoh untuk bekerjasama dengan otakku.

Mulutku bisa saja berkata kalau aku telah sembuh dari rasa sakit itu.
Namun mataku lebih jujur dari mulutku.
Debaran jantungku lebih tak bisa dikontrol ketika mendengar namanya.

Rindu.
Aku kalah darinya bahkan setelah aku berjuang sangat keras.
Aku benci diriku sendiri yang tak bisa menghapus ingatanku dari dirinya yang pengecut.
Aku lelah selalu terbayang senyumnya yang selalu manis di depanku tapi busuk di belakangku.
Aku merasa bodoh merindukan dirinya yang selalu memberi rasa sakit padaku.

Waktu akan menyembuhkan.
Jarak akan membantuku melupakan dirinya.
Itu adalah keyakinan dalam diriku selama ini.
Tapi ternyata yakin saja tidak cukup, berusaha saja tidak akan banyak membantu, selagi akar rasa ini belum dipotong.

Dia bukan pria yang baik.
Dia bukan pria yang bisa membuatku tertawa.
Dia bukan pria yang bisa menarik senyumku keluar.
Itulah alasan aku semakin kesal, mengapa aku menyukai pria seperti ini?
Mengapa sangat sulit melupakannya?
Apa yang aku harapkan darinya?
Apa yang aku tunggu darinya?
Menunggunya menepati janji palsunya? Atau menunggu dia menyadari kesalahannya padaku?

Akhirnya aku tersadar, satu-satunya yang aku minta dari Tuhan saat ini bukan dia datang padaku tapi aku berharap Tuhan membangunkanku dari mimpi tak berujung ini dan mulai hidup dalam dunia nyata. Jika aku harus bermimpi lagi, ijinkan aku bermimpi hal lain yang lebih indah. Aku tak kuat harus hidup dalam mimpi menyakitkan ini lagi. Bangunkan aku, Tuhan! Aku mohon..

Jumat, 12 Juni 2015

Happy Birthday to Me



20 tahun yang lalu aku dilahirkan ke dunia ini. Entah dengan tujuan dan manfaat apa, aku pun belum tau. Tahun berganti tahun, aku mulai mencari jati diri dan tujuan hidupku.

Kini, aku sudah "berkepala dua". Beban di pundakku bertambah berat. Yang awalnya hanya memikul satu kepala, kini bertambah satu kepala lagi. Sudah saatnya melalukan pendewasaan diri. Aku sadar bahwa aku bukanlah anak kecil lagi.

Meniup lilin di hari ulang tahun menjadi momentum yang mendebarkan. Betapa tidak, dengan meniup lilin itu ibaratkan kita meniup umur kita untuk menuju selangkah lebih maju.

Terima kasih Tuhan yang telah memberikan satu hari lagi untukku merasakan pertambahan usia dan memberikan aku kesempatan untuk mencapai umur 20 tahun ini.

Terima kasih kepada seluruh keluarga yang selalu memberikanku kehangatan, perhatian, dan kasih sayang yang melimpah hingga aku tumbuh menjadi seorang gadis yang tegar dalam menghadapi masalah.

Terima kasih Sahabat yang sudah memberikan satu lagi kisah hari ulang tahun yang anti mainstream tapi tak kalah menyenangkannya buatku.

Juga, tak lupa aku mengucapkan terima kasih pada keluarga besar, teman, sahabat, kakak tingkat dan adik tingkat selama bersekolah, hingga dosen yang sudah berkenan memberikan ucapan dan doa yang datang silih berganti dari tadi pagi hingga sekarang.


Terima kasih pada @meliasusiana dan @dayugayatri atas kadonya yang bermakna dan artistic.. Juga terima kasih pada @rinapurnamayanti , @anggrenisita , @tri_palguna , pasek supartha untuk kebersamaannya hari ini dalam merayakan hari ulang tahunku.. kalian adalah pelengkap kebahagiaanku hari ini.. ^^ *oh ya terima kasih untuk Takoyaki buatan Chef Melia Susiana dkk yang dibuat secara mendadak namun tetap bercita rasa tinggi


Hari ini tiga sobatku menyempatkan datang ke rumah malam-malam hanya untuk memberikan kejutan. Mereka rela membagi waktu di sela kesibukannya. Terima kasih @yantikwedastuti yang harus bolak balik gianyar-denpasar hanya untuk memberi kejutan yang tak lebih dari 1 jam itu. Terima kasih juga pada @putuvanhita yang rela bolos kerja demi menyiapkan surprise ini. Tidak lupa juga kuucapkan terima kasih pada @ariyantikarsa yang menyempatkan datang setelah pulang dari bekerja. Hari ini tak 'kan lengkap tanpa kehadiran kalian sobatku.

Di hari ulang tahunku yang ke 20 tahun ini menjadi momentum yang membahagiakan. Banyak kejutan. Banyak tantangan. Banyak keharuan. Banyak cerita baru yang menegangkan. Tapi aku tidak akan menjadi pemain sandiwara yang baik jika hanya sendiri bukan? Aku butuh kalian, sahabatku .. untuk semakin mewarnai panggung sandiwara kehidupanku ini.


Satu hal yang pasti:"Umur boleh bertambah tua, tapi jiwa ini akan tetap muda." Happy Birthday to Me.. 🎁🎉

Sabtu, 06 Juni 2015

Ketakutanku pada Hujan


Aroma hujan yang datang mendekat,
Memelukku di antara riuh kokok ayam di pagi hari..
Suara rintik hujan terdengar begitu berisik dan sedikit menggangguku..
Alam seakan membawa kabar baik sekaligus kabar buruk..
Sekelompok tetes lembutnya menyejukkan tubuhku,
Namun semakin lama tetes hujan itu seakan jatuh semakin deras dan tak terkendali,
Membawa ketakutan itu kembali..
Pelukan itu lama kelamaan menjadi sebuah genggaman yang mencekikku..
Takutkah aku pada tetes derasmu?!
Atau aku hanya takut akan masa lalu kelam yang kau tanam di alam bawah sadarku?!