Tampilkan postingan dengan label Cerita Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2016

Aku Terlalu Takut..


"Every now and then I think you might want me to,
Come show up at your door,
But I'm just too afraid that I'll be wrong."
(We Don't Talk Anymore ~ Selena Gomez and Charlie Puth)

Aku tersadar..
Selama ini aku memaksa diriku untuk membenci dirimu..
Aku berusaha berfikir bahwa kau bukanlah orang yang baik untukku..
Aku tidak ingin mereka berfikir bahwa aku telah dicampakkan olehmu..

Kini aku..
Lebih bisa mengerti bahwa mungkin ini memang jalan yang harus kita tempuh..
Berusaha menerima bahwa kenyataan tidak selalu seindah mimpi..
Mencoba mengikhlaskan ikatan takdir kita yang tak mungkin bersama..

Beberapa kali terlintas di benakku..
Mungkin aku bisa duduk manis menanti kedatangan hadiah atas perjuanganku menunggumu..
Mungkin akan tiba saatnya aku mendapatkan kembali realisasi janji yang kau ucapkan..
Namun, seringkali pula aku takut bahwa aku telah berfikir yang salah..

Aku sering bertanya-tanya..
Apakah disana kau merindukan aku seperti aku yang selalu ingin bertemu denganmu?
Apakah disana kau masih mengingat kenangan kita seperti aku yang terkadang masih masuk ke dalam lubang masa lalu kita?
Apakah disana kau selalu bertanya-tanya tentang kabarku seperti aku yang selalu berusaha mencari tahu bahkan secuil informasi tentangmu?

Aku banyak merasakan sakit ketika mengenangmu, ketika mengingat segala hal tentangmu..
Tapi anehnya di sisi lain, sakit itu sebanding dengan rasa bahagia yang tak kalah memuncak ketika teringat akan kenangan indah tentang dirimu..

Aku selalu ingin tahu..
Apa rasa itu masih ada?
Apa kamu juga merasakan rindu yang sama?
Apa kamu juga sakit ketika mengenangku?
Ah tidak, pertanyaan yang paling ingin aku tanyakan adalah pernahkah ada aku dalam hatimu?


Aku selalu ingin tahu..
Tapi di sisi lain aku terlalu takut..
Takut menerima kenyataan bahwa rasa itu hanya milikku seorang..
Tanpa pernah dimiliki olehmu..
Tanpa ada rasa spesial dalam hatimu..
Untukku.

Kamis, 10 November 2016

All I Ask


Let this be our lesson in love
Let this be the way we remember us
I don't wanna be cruel or vicious
And I ain't asking for forgiveness
All I ask is

If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
'Cause what if I never love again?
(All I Ask ~ Adele)



Perpisahan yang sebenarnya telah terjadi. Hal yang paling aku takutkan akhirnya terjadi. Namun, entah mengapa jika ini memang akhir, aku ingin kita mengucapkan salam perpisahan terakhir dengan baik.

Malam itu, aku memang berpisah dengan semuanya. Tapi perpisahan yang paling nyata adalah perpisahan antara kita. Perpisahan antara rasa yang hampir melekat menjadi satu.

Mereka semua tahu kisah kita. Mencoba untuk menyatukan kita. Tapi kita sendiri pun tahu bahwa tak akan mungkin ada lagi yang bisa menyatukan hati yang diselimuti ego dan rasa saling tidak percaya ini. Bahkan bujukan dari mereka sekalipun tak akan bisa membenahi tembok yang telah runtuh ini.

Mungkin di mata mereka aku yang lebih menyayangimu. Aku yang lebih ingin bersamamu. Aku tak keberatan dengan hal itu. Aku tak tahu bagaimana hatimu, aku hanya tahu bagaimana hatiku selalu tertuju padamu. Bahkan sampai detik ini sekalipun.

Sampai sekarang pun aku tak tahu jika memang benar kenyataannya bahwa kau mempermainkanku selama ini. Hanya mengumbar kata-kata manis di depanku. Menganggapku hanya "angin yang singgah" di hatimu. Orang yang jika tak kau butuhkan lagi tinggal kau tiup dan hilangkan dari hatimu.

Aku tak mengharapkan permintaan maafmu. Aku tak berharap kau membuat alasan-alasan tak berguna seperti rasa minder, keadaan yang berbeda, atau egomu yang terlalu besar. Tapi aku hanya ingin meminta satu hal saja padamu. Biarkan kita berpisah dengan cara yang benar. Tanpa ada luka ataupun rasa sakit di antara kita. Berikan aku kenangan menyenangkan sedikit saja karena sangat menyebalkan hanya bisa mengingatmu dengan kenangan menyakitkan ini.

Kita mengenal dengan cara yang baik dan aku tak berharap kita berakhir dengan cara tidak baik seperti ini. Bagaimana jika kita tidak akan bertemu lagi? Apakah seumur hidup aku harus mengingatmu sebagai pria pengecut tak berperasaan? ~

ps: jika sebulan, dua bulan, bahkan setahun lagi kubaca tulisan ini, satu hal yang aku harapkan adalah aku bisa tersenyum dan sepenuhnya terbebas dari rasa sakit hati ini..

Masih Adakah Aku Dalam Kisah Masa Depanmu?




Awalnya kau berikan aku kode senyuman, tatapan, dan perhatian.
Kau buat aku merasakan hadirnya dirimu dalam hidupku.
Kau membuatku melihatmu dengan pandangan berbeda dari pria lainnya.
Yang awalnya biasa menjadi luar biasa.
Yang awalnya bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang istimewa.

Lama-lama aku tersenyum akan kehadiranmu.
Aku gelisah menanti kedatanganmu.
Wajahku merona merah ketika kutatap wajahmu.
Jantungku berdebar kencang walau hanya mendengar namamu disebut.

Sekarang kenangan tinggal kenangan.
Kau jauhi diriku karena egomu.
Kau menyerah hanya karena keadaan.
Kau biarkan aku merasakan sakit.
Kau pergi meninggalkan janji yang belum pasti bisa kau tepati.
Teganya kau biarkan aku berenang dalam genangan harapan yang tiada mengering.

Semua harapan sirna.
Semua cerita menjadi dongeng semata.
Semua kisah menjadi fiktif belaka.
Semua rasa menjadi berbeda.
Satu yang masih tersisa, perih hati yang telah terluka.

Apakah ini sudah jalan takdir kita untuk saling bertemu?
Mengenal satu sama lain, memberi rasa nyaman hingga tak mampu lagi pergi ke lain hati.
Tapi apakah takdir itu harus sekejam ini?
Membiarkan rasa ini tumbuh tanpa boleh berkembang, tanpa boleh merobohkan dinding tebal di antara kita, namun aku tetap harus merasakan kepedihan yang menusukku semakin dalam.
Masihkah ada aku dalam kisah masa depanmu?
Bisakah aku memiliki harapan, menunggu janjimu yang semakin lama semakin terasa pudar, masihkah rasa ini tetap bertahan walaupun sekian lama telah berlalu, menanti masa depanmu yang belum pasti ada aku di dalamnya.

Andai aku bisa tahu tentang masa depanmu, aku hanya ingin tahu hal itu. Setidaknya aku bisa tahu apakah aku harus tetap menunggu atau merelakan dirimu dengan ikhlas.

Selasa, 08 November 2016

Tolong Bangunkan Aku, Tuhan!



Mungkin aku masih setengah terjaga.
Mencoba untuk sepenuhnya terbangun dari mimpi tak berujung ini.
Namun aku sadar bayang-bayang nama, wajah, dan senyumnya masih menari dalam mimpiku.

Tuhan selalu mengujiku dengan banyak pilihan.
Tapi seringkali aku memilih jalan yang salah.
Memilih takdir yang salah.
Takdir yang membawaku pada kesakitan.

Mereka bilang aku terlalu dramatic.
Mereka berfikir aku terlalu terbawa perasaan.
Mereka selalu mengingatkanku jangan terlalu banyak memberi pupuk dalam rasa yang aku tanam.
Mereka menyadarkanku bahwa segala hal yang berlebihan tidak akan bagus.
Aku tahu teorinya, otakku tahu cara kerjanya, tapi hatiku terlalu bodoh untuk bekerjasama dengan otakku.

Mulutku bisa saja berkata kalau aku telah sembuh dari rasa sakit itu.
Namun mataku lebih jujur dari mulutku.
Debaran jantungku lebih tak bisa dikontrol ketika mendengar namanya.

Rindu.
Aku kalah darinya bahkan setelah aku berjuang sangat keras.
Aku benci diriku sendiri yang tak bisa menghapus ingatanku dari dirinya yang pengecut.
Aku lelah selalu terbayang senyumnya yang selalu manis di depanku tapi busuk di belakangku.
Aku merasa bodoh merindukan dirinya yang selalu memberi rasa sakit padaku.

Waktu akan menyembuhkan.
Jarak akan membantuku melupakan dirinya.
Itu adalah keyakinan dalam diriku selama ini.
Tapi ternyata yakin saja tidak cukup, berusaha saja tidak akan banyak membantu, selagi akar rasa ini belum dipotong.

Dia bukan pria yang baik.
Dia bukan pria yang bisa membuatku tertawa.
Dia bukan pria yang bisa menarik senyumku keluar.
Itulah alasan aku semakin kesal, mengapa aku menyukai pria seperti ini?
Mengapa sangat sulit melupakannya?
Apa yang aku harapkan darinya?
Apa yang aku tunggu darinya?
Menunggunya menepati janji palsunya? Atau menunggu dia menyadari kesalahannya padaku?

Akhirnya aku tersadar, satu-satunya yang aku minta dari Tuhan saat ini bukan dia datang padaku tapi aku berharap Tuhan membangunkanku dari mimpi tak berujung ini dan mulai hidup dalam dunia nyata. Jika aku harus bermimpi lagi, ijinkan aku bermimpi hal lain yang lebih indah. Aku tak kuat harus hidup dalam mimpi menyakitkan ini lagi. Bangunkan aku, Tuhan! Aku mohon..

Jumat, 05 Juni 2015

Belajar dari Secangkir Teh


Belajarlah dari secangkir teh yang masih panas. Pergunakan waktu selama menunggu teh itu menghangat dengan menyentuh sisi cangkir dan rasakan panasnya pada kulit tangan kita. Berikan kesempatan pada mata, telinga, atau organ tubuh lainnya untuk merasakan panasnya juga. Awalnya tubuh belum terbiasa dengan hal itu namun seiring waktu berlalu tubuh mulai beradaptasi dan merasakan kenyamanan pada panas tersebut. Lama kelamaan teh itu mulai menghangat. Waktu telah merubah nilai dari teh tersebut. Di samping itu, tubuh pun mulai beradaptasi dengan panas atau kehangatan teh sehingga teh itupun mulai dapat dinikmati dengan menyenangkan.


Hal ini dapat kita analogikan dengan masalah yang ada pada kehidupan kita sendiri. Awalnya masalah terasa sangat mengganggu dan terasa sulit untuk dilewati. Seakan untuk 'menyentuh' masalah saja terasa berat untuk dilakukan. Namun jika kita membiasakan diri dan mulai beradaptasi dengan masalah tersebut maka tidak akan ada lagi beban dalam diri. Kita akan terbiasa untuk menghadapi masalah dengan menyenangkan. Jangan takut pada masalah. Tuhan menciptakan manusia lebih besar dari masalah itu sendiri. Jadi jangan takut pada masalah karena sesungguhnya jalan hidup ini ibarat pensil warna yang mewarnai diri kita yang bagaikan kertas putih. Kadang kala kita menemukan pensil warna hitam atau abu-abu. Walau terasa suram namun terkadang kita juga memerlukannya sebagai pelengkap warna cerah lainnya. Karena sesungguhnya kedua jenis warna itu bersifat komplementer yaitu saling mengisi dan melengkapi. Jadi, nikmati saja masalah yang menghadang kita dengan santai dan percayalah dalam kehidupan ini tidak selamanya warna suram yang akan mengikuti namun warna cerah pun akan selalu membayangi kesuraman itu sendiri. Suatu saat masalah pasti akan teratasi. Percayalah hal itu.



"Dirangkai setelah obrolan santai dengan seorang Profesor dari UGM -Prof. Surya- yang berbaik hati membagikan ilmu tentang kehidupan pada kami, anak PPMI DK Bali. Kami mengucapkan terima kasih atas ilmu yang berharga ini, Prof."